Sunday, August 31, 2008

Empat Fase Kehidupan Ibnu Khaldun

Ibnu khaldun adalah ulama maliki, politisi, sekaligus seorang sosiolog ternama. Perjalanan hidupnya sangat panjang dan banyak diliputi berbagai intrik. Disatu masa dia menjadi seorang penuntut ilmu yang giat, di lain masa dia menjadi seorang politisi yang oportunis. Beliau pernah menjadi seorang Qadhi bermadzhab maliki di Mesir, dilain waktu beliau adalah seorang duta besar pada salah satu daerah di Andalusia.

Monday, August 25, 2008

Antara Husnudzân dan Tabayyun; Sebuah Usaha Klarifikasi Objektif

Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa Rasulullah Saw. mengutus Al-Walid bin 'Uqbah, salah seorang sahabat dari Bani Umar bin Umayyah, dan salah seorang dari bani Abi Mu'ith untuk mengambil zakat kepada Bani Al-Mushtalaq. Ketika kabar ini sampai ke telinga Bani Mushthalaq, mereka sangat gembira. Kemudian mereka keluar kota untuk menemui utusan Rasulullah SAW. Ketika Al-Walid mendengar bahwa mereka keluar kota untuk menemuinya, dia kembali ke Rasulullah Saw (dalam riwayat lain, setan berbisik bahwa mereka ingin mengadakan peperangan). Kemudian dia berkata: Wahai Rasululah Saw. Sesungguhnya Bani Al-Mushthalaq enggan berzakat. Maka Rasulullah Saw amat marah. Tatkala beliau hendak memutuskan untuk menyerang mereka, datang kepadanya utusan Bani Al-Mushthalaq. Kemudian mereka berkata: Wahai Rasulullah Saw. sesungguhnya kami telah tahu bahwa utusanmu telah kembali setelah menempuh setengah perjalan. Kami takut seandainya yang menyebabkan kepulangannya adalah perintah darimu karena kemarahan kepada kami. Sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya dan murka Rasulullah Saw.. Kemudian Allah menurunkan ayat mengenai hal ini : "Wahai orang-orang yang beriman apabila datang kepadamu seorang fasik dengan sebuah berita, maka bertabayyunlah (klarifikasi) sehingga kalian tidak menimpakan musibah pada suatu kaum dengan ketidaktahuan kemudian kalian menyesali dengan apa yang telah kalian lakukan." (HR. Abu Kuraib dari Ja'far bin Aun dari Musa bin Ubaidah dari Tsabit Maula Ummu Salamah dari Ummu Salamah. Lih. tafsir QS. Al-Hujurat: 6 dalam kitab Tafsir At-Tabari)

Thursday, August 21, 2008

Konsekuensi

usahaAllah berfirman,“ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. (Asy-Syams: 8)”. Fujur dan taqwa, keburukan dan kebaikan, atau bisa dikatakan maksiat dan taat. Agaknya dua hal kontras ini merupakan fitrah yang telah Allah sematkan dalam setiap jiwa manusia. Disinilah manusia akan diuji, Fujur atau taqwa yang akan menghiasi kehidupannya.

Semenjak kelahirannya manusia diberikan kemampuan oleh Allah untuk menilai. Penilaian ini akan semakin tepat dan benar seiring pertumbuhannya selaras dengan pengetahuan yang ia dapatkan (lih. Ilmu dan puzzle). Hingga umur “Baligh” menjadi pertanda adanya beban di pundaknya untuk memilih 2 variabel yang Allah ilhamkan. Apakah fujur yang akan dia pilih, ataukah takwa yang akan menjadi jalannya.

Monday, August 18, 2008

Ilmu dan Puzzle

Tentu semua orang tahu, permainan puzzle dimulai dari potongan gambar yang berserakan. Kemudian disusun satu-persatu sehingga menjadi satu gambar yang utuh.

Bagaimanakah jika potongan gambar puzzle tersebut belum ditemukan? Sebagai gambaran, ambillah sebuah gambar puzzle. Keluarkan potongan-potongan gambarnya. Kemudian sembunyikan tiap potongan gambar tersebut dalam tempat yang berbeda. Buatlah petunjuk untuk mencari potongan-potongan gambar puzzle tersebut. Kemudian mintalah supaya teman anda menyusun potongan-potongan gambar puzzle tersebut sehingga menjadi sebuah gambar yang utuh.

Thursday, August 14, 2008

Mengenal Jiwa Manusia

Pernahkah anda melihat seorang bapak-bapak dengan baju yang sederhana sedang bekerja keras. Ada yang angkat-angkat batu, membongkar bangunan, angkat barang dagangan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Lihat mereka tidak menghiraukan tetesan keringat yang semakin deras. Kadang lapar harus mereka tahan. Tetapi uang yang mereka dapatkan hanya sekedarnya.

Monday, August 11, 2008

Pemahaman Sederhana terhadap Tiga Epistemologi

Selain sebagai instrumen untuk mencari kebenaran, tiga epistemologi ini juga bisa digunakan sebagai sarana identifikasi cara berfikir seseorang. Ketiga epistemologi ini adalah Burhani, Bayani, Irfani.

Pemahaman paling sederhana pada ketiga epistemologi ini adalah jawaban dari pertanyaan, “Dengan apakah manusia mendapatkan kebenaran?”.

Seorang filosof dengan corak berfikir burhani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari akal atau panca indera. Dengan kedua sarana ini manusia memunculkan dua dikotomi antara apa yang disebut rasional dan irrasional. Rasional adalah sebuah kebenaran, sebaliknya irrasional adalah sebuah kesalahan. Semua kebenaran harus masuk dalam rasionalitas manusia. Sedangkan segala sesuatu di luar ranah rasionalitas diacuhkan.

Thursday, August 7, 2008

Kita Memang Lemah

Ternyata dalam kelemahan ada kekuatan yang amat dasyat Banyak orang-orang sukses di sekitar kita, yang kesuksesannya nampak di berbagai segi kehidupan. Ada politikus, ekonom, businessman, entrepreneur, pengamat sosial, programmer, designner, dan lain sebagainya. Tanda kesuksesan mereka dapat
diukur dari materi yang mereka miliki. Rumah yang besar dengan berbagai macam dekorasi kelas atas, mobil merek internasional, bahkan baju-baju yang dia kenakan. Semua adalah barang mahal yang tidak bisa dibeli oleh sembarang.

Di atas segala kenikmatan duniawi tersebut, manusia kadang lupa dengan kekurangannya. Kesombongannya telah menutup hatinya. Dia lupa bahwa Allah telah menyematkan dalam semua jiwa satu kelemahan, bahwa manusia adalah makhluk Allah yang akan dan selalu butuh terhadap materi dan makhluk hidup disekelilingnya. Sehingga sehebat apapun manusia, dia tidak akan bisa lepas dari kebutuhannya.

Monday, August 4, 2008

Pendidikan Kita

Pendidikan KitaMenurut survey Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara ASEAN (lih. http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/?p=121). Data di atas hanyalah salah satu poin yang menggambarkan betapa buruk kualitas pendidikan yang kita miliki. Tentu standar yang digunakan oleh LSM-LSM tersebut adalah standar pendidikan sekuler materialistik.

Diakui atau tidak, paradigma pendidikan sekuler-materialistik ini telah masuk dalam sendi-sendi pemikiran sebagian besar pemegang kebijakan di Negara kita. Bukan merupakan kesalahan ahli-ahli pendidikan kita. Tetapi hal ini lebih dikarenakan dominasi pemikiran global yang di-handle oleh Barat. Out-put dari pendidikan ini sangat bagus. Muncul ahli-ahli medis, programmer-programer handal, ekonom-ekonom terkenal, politisi-politisi yang cerdik, dan lain sebagainya.

Thursday, July 31, 2008

Merajut Ukhuwah dalam Perniagaan

Merajut UkhuwahPerbedaaan antara bagi hasil dan bunga tidak begitu kentara. Tidak sembarang orang mampu menerangkan dan memberi jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan tersebut. Bahkan bagi kami, mahasiswa Al-Azhar.
Sebenarnya ada perbedaan mencolok pada implikasi dari kedua hal tersebut. Dalam Bank konvensional transaksi yang dilakukan antara nasabah dan bank hanya berbentuk satu, yakni pinjam meminjam yang berbasis bunga. Implikasi yang dihasilkan dari sistem ini adalah ketidakpedulian sang pemilik kapital terhadap pengelola modalnya. Yang dipikirkan oleh pemilik kapital hanyalah selama modal bisa kembali dengan untung yang berlipat. It's OK. Apakah uang itu akan diputar dalam usaha yang halal ataupun yang haram, That's not my business!!!

Sunday, July 27, 2008

Mana yang Lebih Baik; Orang Miskin yang Sabar atau Orang Kaya yang Bersyukur

Rasulullah Muhammad SAW bersabda pada empat belas abad yang lalu, “Demi Allah, saya tidak takut dengan kemiskinan kalian, akan tetapi saya takut jikalau dunia menjadi lapang bagi kalian sebagaimana umat sebelum kalian sehingga mereka saling memperebutkannya”. Gejala inilah yang nampak ditengah-tengah masyarakat kita. Sebuah pola hidup baru bagi sebuah masyarakat agraris. Gotong royong lambat laun pupus oleh egoisme individu yang berkembang. Kejujuran hilang ditutupi dengan kebohongan. Persaudaraan sulit ditemukan kecuali didalamnya terdapat uang. Kesombongan menggeser sifat lugu, sopan, dan ketawadhu'an. Perubahan cara pandang ini selanjutnya merubah gaya hidup masyarakat.