Monday, August 11, 2008

Pemahaman Sederhana terhadap Tiga Epistemologi

Selain sebagai instrumen untuk mencari kebenaran, tiga epistemologi ini juga bisa digunakan sebagai sarana identifikasi cara berfikir seseorang. Ketiga epistemologi ini adalah Burhani, Bayani, Irfani.

Pemahaman paling sederhana pada ketiga epistemologi ini adalah jawaban dari pertanyaan, “Dengan apakah manusia mendapatkan kebenaran?”.

Seorang filosof dengan corak berfikir burhani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari akal atau panca indera. Dengan kedua sarana ini manusia memunculkan dua dikotomi antara apa yang disebut rasional dan irrasional. Rasional adalah sebuah kebenaran, sebaliknya irrasional adalah sebuah kesalahan. Semua kebenaran harus masuk dalam rasionalitas manusia. Sedangkan segala sesuatu di luar ranah rasionalitas diacuhkan.

Selanjutnya orang yang memiliki corak berfikir bayani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari text. Rasio tidak memiliki tempat dalam pembacaan mereka terhadap kebenaran. Sehingga banyak doktrin-dokrin agama yang irrasional tetap mereka jadikan pegangan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ketercukupan golongan ini terhadap text memasukkan mereka pada golongan fundamental literalis.

Terakhir adalah orang yang memiliki corak berfikir irfani. Mereka akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari wahyu, ilham, wangsit, dan sejenisnya. Pola berfikir demikian akan membangun sebuah struktur masyarakat yang memiliki hierarki atas bawah. Hanya orang elitlah yang mampu menentukan apa itu kebenaran. Tidak lain karena merekalah yang mampu mendapatkan wahyu, ilham, atau wangsit.

Dalam dunia sufi, orang elit ini adalah para syeikh yang memiliki otoritas tertinggi dalam kerajaan tarekatnya. Dalam dunia Eropa pada abad pertengahan, orang elit ini adalah para pemimpin-pemimpin agama yang berdomisili di katedral-katedral. Atau dalam lingkungan orang pedalaman mungkin, orang elit ini adalah dukun-dukun yang dijadikan sebagai penasehat pemimpin mereka.

Menurut kami:
Untuk memahami sebuah kebenaran tidak cukup hanya dengan memiliki satu corak berfikir saja. Dalam memahami Islam, Imam Ghazali menjadikan fikih sebagai ilmu yang mengantarkannya untuk memahami nash-nash agama. Dikemudian hari, beliau merasa bahwa tanpa rasionalitas akal, pemahaman terhadap nash agama tersebut terasa kurang. Maka beliau mempelajari mantiq. Sehingga agama dalam corak berfikir beliau menjadi agama yang rasional. Radionalitas dalam agama ini pada akhirnya menjadikan agama terasa hambar tanpa spirit didalamnya. Dari sinilah corak berfikir irfani dibutuhkan. Maka beliau mempelajari tashawwuf.

Dibutuhkan sinergi antara tiga corak berfikir diatas. Akan tetapi harus diakui bahwa antara ketiga corak berfikir ini memiliki kontradiksi yang saling menjatuhkan. Oleh karenanya, sinergi yang diharapkan adalah sebuah sinergi yang moderat. Ada pada tiap corak berfikir diatas yang diambil dan ditolak. Maka keadilan menjadi sikap yang harus dimiliki seserorang dalam memilah dan memilih postulat-postulat tersebut. Allah berfirman: “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (al-Baqarah: 143).

No comments: